Nama : Junita Simanjuntak
Kelas : Pagi
Jurusan : Akuntansi
1.
Diketahui : Penawaran Qs= 5000 + 2P
Permintaan Qd = 25000 – 2P
Subsidi Rp. 1000/unit
Ditanya :
a) Berapa jumlah produk yang dijual dan jual harga jual produk pada keseimbangan pasar sebelum dan setelah subsidi !
· Sebelum subsidi
Qd = Qs
25.000- 2P = 5000 + 2P
-4P = - 20.000
P = 5.000
Subsidi P ke Qs
Q = 5000 + 2P
Q = 5.000 + 2 (5000)
Q = 15.000
Jumlah harga keseimbangan sebelum subsidi £{15.000 – 5.000 }
· Setelah subsidi
Qd = 25.000 – 2P » Pd = 25.000 – Qd
2
Qs = 5.000 + 2P » Ps = - 5.000 + Qs
2
Subsidi Ps berubah :
PSS = -5.000 + Qs - 1000
2
Pd = Pss
25.000 – Qd = 7.000 – Qs
2 2
25.000 – Q =7.000 + Q
32.000 = 29
Q =16.000
Jumlah harga dan keseimbangan
Pss = -7.000 + 16.000 = 45.000
2
ȣ{ 16.000,4.500}
b) Berapa tarif dan total subsidi yang diterima konsumen dan produsen serta tarif dan total subsidi yang ditanggung pemerintah
1. Subsidi diterima konsumen
SK = 5.000 – 4.500
= 5000
2. Subsidi diterima produk
Sp = s- sk
= 1000 -5000
= 500
3. Subsidi ditanggung Pemerintah
S X QS = 1000 X 16.000
= 16.000.000,00
c) Grafik
2.
A. Harga jumlah keseimbangan pajak Qd = Qs
1500 – 10p = 20p – 1200
30p = 2700
P = 90
B. Harga dan jumlah keseimbangan setelah pajak Psi = ps + t
150 – 0,01Q = 0,05Q + 60 + 15
0,0Q – O,5 Q = 75 – 150
-0,15Q = 75
Q = 500
Maka harta setelah pajak
Ps = 0,05 Q + 75
Ps = 0,05Q ( 500) + 75
Ps = 25+ 75
= 100
3.
Break Even Point ( BEP ) adalah titik impas dimana posisi jumlah pendapatan dan biaya sama atau seimbang sehingga tidak terdapat keuntungan ataupun kerugian dalam suatu perusahaan. Break Even dan analisis hubungan biaya – volume – laba merupakan teknik teknik perencanaan laba dalam jangka pendek dengan mendasarkan analisisnya pada variabilitas penghasilan penjualan ataupun biaya terhadap volume kegiatan.
Dari pengertian tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan Break Even Point ( BEP) adalah suatu keadaan dimana perusahaan tidak mengalami kerugian ataupun keuntungan yang bisa juga disebut pendapatan dan biaya seimbang.
Break Even Point ini digunakan untuk menganalisis proyeksi sejauh mana jumlah unit yang di produksi atau sebanyak apa yang diterima untuk mendapatkan titik impas atau kembali modal.
Contoh soal :
I. Seorang akuntan manajer perusahaan ABC bertanggung jawab dalam operasional produksi dan persediaan stok barang ingin mengetahui jumlah sales yang diperlukan untuk menutup biaya operasional Rp. 50.000.000,00 dan ingin mendapat keuntungan sebesar Rp. 20.000.000,00, penyebaran biaya yang dikeluarkan untuk operasinya adalah sebagai berikut:
Total biaya tetap = 50.000.000
Biaya variabel per unit = 30.000
Harga jual per unit = 50.000
Keuntungan yang diinginkan =20.000.000
Ditanya ; carilah nilai BEP dalam satuan unit dan BEP dalam satuan rupiah !
Penyelesaian 1 :
BEP = 50.000.000: (50.000- 30.000)
BEP = 50.000.000 : 20.000
BEP = 2500 unit
Artinya perusahaan harus menjual 2500 unit agar tidak mengalami, dan demikian sebaliknya.
Penyelesaian 2 :
BEP dalam rupiah = harga jual per unit x BEP unit
= 50.000 x 25.000 unit
= Rp. 125.000.000

